Selasa, Agustus 04, 2009

Desain Network yang Simpel

Desain suatu jaringan memang cukup rumit terutama untuk jaringan dengan skala besar, misalnya diatas 1000 PC karena kita harus memperhitungkan mengenai performa, segmentasi, skema IP dan availability baik dalam hal koneksi maupun perangkat.

Sering kali kita melihat network design guideline dimana layer (lapisan) dari suatu jaringan dibagi menjadi 3 yaitu Core Layer, Aggregation Layer (atau bisa juga disebut Distribution Layer) dan Access Layer (atau Edge Layer).

Lihat contoh berikut :


Contoh tersebut menggunakan chassis-based switches (misalnya DES-7200 Series) untuk core dan aggregation, tentunya dual chassis utk HA, dual management engine dan dual psu. Sementara di sisi access digunakan physical stacking switches (misalnya DGS-3400 Series atau DGS-3600 Series). Bahkan ada yang menggunakan chassis-based switch untuk access layer spt pada gambar berikut :



Ada yang salah dengan 2 contoh desain tsb? Sama sekali tidak, design tsb merupakan standar de-facto untuk membangun jaringan skala besar. Namun apakah desain yang sama juga cocok untuk jaringan skala kecil-menengah?

Bila budget IT-nya cukup sih, sah-sah saja menerapkan desain yang sama namun yang terjadi adalah overkill dan hanya buang2 budget saja sementara hasil yang didapat tidak sesuai dengan budget yang dikeluarkan (bahasa kerennya : price-to-performance ratio-nya tidak bagus). Lalu bagaimana desain yang simpel untuk jaringan skala kecil-menengah? Jawabannya, untuk jaringan seperti ini cukup digunakan 2 layer saja, dimana core dan aggregation dijadikan satu. Bahkan kalau memang sangat kecil jaringannya misalnya kurang dari 20 komputer, tidak perlu layer-layer-an :-)

Lihat contoh berikut :


Pada desain tsb digunakan L2 Gigabit Switches yaitu DGS-3100-24 sbg core-aggregation layer sementara disisi akses menggunakan DES-3028 atau DES-3028P (bila membutuhkan PoE untuk perangkat IP-Phone, IP-Camera atau Access Point). Antara core-aggregation layer ke access layer digunakan 2 link koneksi gigabit dengan konfigurasi link aggregation sehingga pada kondisi normal (dalam arti kedua link up) maka traffic akan di-load balance diantara kedua link itu, sedangkan bila salah satu link down maka koneksi masih bisa berjalan. Sebagai proteksi jaringan digunakan D-Link UTM DFL-260 atau D-Link Firewall DFL-210. Dengan konfigurasi spt ini, cocok untuk jaringan dengan kapasitas antara 30-60 users.

Bila ingin meningkatkan availability terutama disisi core-aggregation layer maka bisa ditambahkan satu unit DGS-3100-24 spt gambar berikut :



Pada layout berikut terdapat 2 buah DGS-3100-24, dimana kedua DGS-3100-24 ini diset sbg physical stacking (menggunakan HDMI stacking port). 2 link yang ada pada masing2 access switch dihubungkan ke physical stacking DGS-3100-24 ini yaitu 1 link ke DGS-3100-24 pertama dan 1 link ke DGS-3100-24 kedua. Jadi bila DGS-3100-24 pertama down maka jaringan tidak akan terpengaruh karena DGS-3100-24 kedua akan mengambil alih.

Bagaimana jika jumlah user-nya lebih dari 60? misalnya 150 users? Layout berikut cocok untuk jumlah user diatas 100.



Secara desain, jaringan ini sama dengan sebelumnya hanya pada layout kali ini digunakan switches dengan performance dan features yang lebih baik. Untuk core-aggregation layer digunakan DGS-3426 (L2 Gigabit) atau DGS-3627 (L3 Gigabit), sementara untuk access layer-nya digunakan DES-3526 atau bila menginginkan access switch dengan kapasitas yang lebih besar bisa menggunakan DES-3528 atau DES-3528P (dengan PoE). Sementara untuk security digunakan D-Link Firewall DFL-800 atau D-Link UTM DFL-860.

Sama hal-nya dengan penjelasan diatas, kita bisa menambahkan satu unit DGS-3426 atau DGS-3627 untuk meningkatkan availability. 2 unit DGS-3426 atau 2 unit DGS-3627 diset sbg physical stacking bisa menggunakan 10 Gb CX Module atau 10 Gb Fiber Module. Lalu masing2 access switch akan terhubung ke masing2 switch dalam physical stacking tsb. Layoutnya bisa dilihat pada gambar berikut :



Pada layout utk jumlah user diatas 100 diberikan opsi untuk menggunakan Layer 3 Switch karena umumnya bila jaringan sudah diatas 100 users, akan ada segmentasi dan memerlukan fitur2 yang ada pada Layer 3 switch misalnya DHCP relay, Inter-VLAN Routing, dan lain-lain.

Jadi untuk desain jaringan skala kecil-menengah tidak perlu rumit spt halnya desain 3 layer, bukan karena desain ini jelek, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan shg mencapai hasil yang maksimal. Bila butuh solusi, konsultasi atau pertanyaan lainnya mengenai desain jaringan bisa email ke sini.

35 komentar:

Maman Suherman mengatakan...

Halo D-Link, mau konsul boleh yah ....
Di kantor sy sekarang pake router PC pake FreBSD, mail server (exchange server) dan Web server. mail server dan web server pake IP lokal. Rencana kami akan mengganti router menjadi router yg tidak berbentuk PC, Apakah D-Link punya produk yang bisa menggantikan peran router PC yang sekarang ada? dan kami juga akan mengganti ISP nya menjadi Speedy, apakah D-link juga punya produk modem ADSL yang disarankan sesuai dengan kebutuhan kami ??

Mohon Pencerahannya
Terimakasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Maman Suherman

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Di kantor sy sekarang pake router PC pake FreBSD, mail server (exchange server) dan Web server. mail server dan web server pake IP lokal. Rencana kami akan mengganti router menjadi router yg tidak berbentuk PC, Apakah D-Link punya produk yang bisa menggantikan peran router PC yang sekarang ada? dan kami juga akan mengganti ISP nya menjadi Speedy, apakah D-link juga punya produk modem ADSL yang disarankan sesuai dengan kebutuhan kami ??"

---> Untuk kebutuhan anda, lebih cocok menggunakan router firewall kami yaitu DFL-210/800/1600/2500. Jadi router firewall tsb dipasang setelah modem adsl yang diset sbg bridge. Layoutnya spt dibawah :

Inet--DSL-520B--DFL---LAN

Beda antara tipe2 itu adalah di kapasitas-nya, jika user anda dibawah 50, DFL-210 sudah cukup namun bila lebih DFL-800/1600/2500 sangat disarankan.

Datasheet bisa didownload di ftp://public.dlink.co.id/Firewall/DFL-210-800-1600-2500/Datasheet/DFL-210_800_1600_2500_Datasheet_15(W).pdf

DSL-520B : ftp://public.dlink.co.id/ADSL%20Modem-Router/DSL-520B/Datasheet/DSL-520B_ds.pdf

Mudah2an membantu

Maman Suherman mengatakan...

Terimakasih atas tanggapannya, hebat Dlink respon nya cepat. Cara konfigurasi router DFl-210 nya gimana ?, tentunya sesuai dengan kebutuhan kami tadi...

Terimakasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Maman Suherman

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Terimakasih atas tanggapannya, hebat Dlink respon nya cepat."

---> Terima kasih atas pujiannya, kami masih harus improve lbh baik lagi :-)

"Cara konfigurasi router DFl-210 nya gimana ?, tentunya sesuai dengan kebutuhan kami tadi..."

---> DFL-210 bisa disetting dgn 2 cara, WebUI dan CLI. Tentu webUI lbh comfort untuk sebagian org. Setting tergantung sesuai kebutuhan anda, kalo dilihat dari kebutuhan anda, anda hanya NAT dr inside ke outside dan SAT dr outside ke inside untuk server-server anda.

Sebagai referensi, anda bisa baca di manual DFL-Series : ftp://public.dlink.co.id/Firewall/NetDefendOS/2.25/NetDefendOS_2.25.01_Firewall_UserManual_V1.08.pdf

Atau CLI guide di ftp://public.dlink.co.id/Firewall/NetDefendOS/2.25/NetDefendOS_2.25.01_CLI_Reference_Guide_V1.03.pdf

Mudah2an membantu

Erta Muharlis mengatakan...

Hai DLink,...
Saya menggunakan modem 520B dan sudah upgrade firmware, sekarang lagi mengalami permasalahan yaitu tidak bisa terkoneksi ke speedy. padahal dicoba dengan modem merk lain terkoneksi dengan baik.
Lampu DSL menyala (tanpa berkedip), dan di summary modem terlihat downstream/upstream cuma lebih rendah dari yang terlihat di modem merk lain, dan tidak terlihat gateway (kosong). Kira2 gimana solusinya ya???

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Erta Muharlis

Terima kasih atas pertanyaan anda.

Dikarenakan anda menanyakan hal teknis yg tidak berhubungan dgn thread, saya pindahkan pertanyaan anda ke http://blog.dlink.co.id/2008/09/introduction.html

Tolong selanjutnya bila anda ada pertanyaan, posting di thread yang sesuai.

Aheng mengatakan...

Kantor saya ada 3 buah dlink manageable 3026, saya sudah berhasil membuat vlan menghubungka salah satu 3026 tsb dengan sebuah router mikrotik.
konfigurasi sebelumnya saya buat ada VLAN_LAB, VLAN_WARNET, VLAN_ADM, dan VLAN_HOTSPOT. khususnya untuk Administrasi dengan VLAN_ADM karena letaknya terpisah-pisah ada yang dekat Switch1, ada yang dekat swicth2, dan ada yang dekat switch3, maksud saya komputer ADM mau di colok di swicth manapun dengan por yang sudah di tentukan tetap menjadi VLAN_ADM. dengan kasus tersebut bagaimana menghubungkan antara 3 swicth tsb agar VLAN bisa saling berhubungan
terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Aheng

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Kantor saya ada 3 buah dlink manageable 3026, saya sudah berhasil membuat vlan menghubungka salah satu 3026 tsb dengan sebuah router mikrotik.
konfigurasi sebelumnya saya buat ada VLAN_LAB, VLAN_WARNET, VLAN_ADM, dan VLAN_HOTSPOT. khususnya untuk Administrasi dengan VLAN_ADM karena letaknya terpisah-pisah ada yang dekat Switch1, ada yang dekat swicth2, dan ada yang dekat switch3, maksud saya komputer ADM mau di colok di swicth manapun dengan por yang sudah di tentukan tetap menjadi VLAN_ADM. dengan kasus tersebut bagaimana menghubungkan antara 3 swicth tsb agar VLAN bisa saling berhubungan"

---> Cara ini sangat mudah, anda tinggal create VLAN yang sama di switch 2 n 3 dan create tag port.

Contoh :

VLAN_LAB : VID 2
VLAN_WARNET : VID 3
VLAN_ADM : VID 4
VLAN_HOTSPOT : VID 5

Topologi :

Router--SW1---SW2---SW3

SW1 :

Port 1 ke router
Port 2 ke SW2
Port 3-5 VLAN_LAB
Port 6-10 VLAN_WARNET
Port 11-15 VLAN_ADM
Port 16-20 VLAN_HOTSPOT

SW2 :

Port 1 ke SW1
Port 2 ke SW3
Port 3-5 VLAN_LAB
Port 6-10 VLAN_WARNET
Port 11-15 VLAN_ADM
Port 16-20 VLAN_HOTSPOT

SW3 :

Port 1 ke SW2
Port 3-5 VLAN_LAB
Port 6-10 VLAN_WARNET
Port 11-15 VLAN_ADM
Port 16-20 VLAN_HOTSPOT

Setting SW1 :

#keluarkan semua port dr vlan default
config vlan default delete 1-24
#create masing2 vlan
create vlan VLAN_LAB tag 2
create vlan VLAN_WARNET tag 3
create vlan VLAN_ADM tag 4
create vlan VLAN_HOTSPOT tag 5
#assign port sbg untagged port ke masing2 vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add untagged 3-5
config vlan VLAN_WARNET add untagged 6-10
config vlan VLAN_ADM add untagged 11-15
config vlan VLAN_HOTSPOT add untagged 16-20
#assign port 1,2 sbg tagged port yang utk keempat vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add tagged 1-2
config vlan VLAN_WARNET add tagged 1-2
config vlan VLAN_ADM add tagged 1-2
config vlan VLAN_HOTSPOT add tagged 1-2
#simpan konfigurasi
save

Setting SW2 :

#keluarkan semua port dr vlan default
config vlan default delete 1-24
#create masing2 vlan
create vlan VLAN_LAB tag 2
create vlan VLAN_WARNET tag 3
create vlan VLAN_ADM tag 4
create vlan VLAN_HOTSPOT tag 5
#assign port sbg untagged port ke masing2 vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add untagged 3-5
config vlan VLAN_WARNET add untagged 6-10
config vlan VLAN_ADM add untagged 11-15
config vlan VLAN_HOTSPOT add untagged 16-20
#assign port 1,2 sbg tagged port yang utk keempat vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add tagged 1-2
config vlan VLAN_WARNET add tagged 1-2
config vlan VLAN_ADM add tagged 1-2
config vlan VLAN_HOTSPOT add tagged 1-2
#simpan konfigurasi
save

Setting SW3 :

#keluarkan semua port dr vlan default
config vlan default delete 1-24
#create masing2 vlan
create vlan VLAN_LAB tag 2
create vlan VLAN_WARNET tag 3
create vlan VLAN_ADM tag 4
create vlan VLAN_HOTSPOT tag 5
#assign port sbg untagged port ke masing2 vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add untagged 3-5
config vlan VLAN_WARNET add untagged 6-10
config vlan VLAN_ADM add untagged 11-15
config vlan VLAN_HOTSPOT add untagged 16-20
#assign port 1 sbg tagged port yang utk keempat vlan tsb
config vlan VLAN_LAB add tagged 1
config vlan VLAN_WARNET add tagged 1
config vlan VLAN_ADM add tagged 1
config vlan VLAN_HOTSPOT add tagged 1
#simpan konfigurasi
save

Setelah selesai, maka antara vlan yang sama di switch yang berbeda bisa saling komunikasi. Bila ingin komunikasi antar vlan yang berbeda maka anda tinggal buat vlan2 tsb di router anda dan plug ke port 1 pada SW1.

Mudah2an membantu

ahmad mengatakan...

Perkenalkan nama saya Ahmad, Operator Warnet di Palembang
Saya mau menanyakan tentang koneksi saya pake Modem D-link DSL-526B yang suka putus ( padahal latensi dnsnya 2 digit ). Apakah ada hal yang perlu di setting lagi? mengingat pc yang di pake 7 buah, Pakai Speedy B/W 1 Mega dan tidak memakai mikrotik atau router. Tolong berikan solusinya

D-Link Indonesia mengatakan...

To : ahmad

Terima kasih atas pertanyaan anda.

Dikarenakan anda menanyakan hal teknis yg tidak berhubungan dgn thread, saya pindahkan pertanyaan anda ke http://blog.dlink.co.id/2010/04/tanya-jawab-versi-2.html

Tolong selanjutnya bila anda ada pertanyaan, posting di thread yang sesuai. Bila tidak ada yang sesuai maka silahkan posting disini : http://blog.dlink.co.id/2010/04/tanya-jawab-versi-2.html

a mengatakan...

warnet saya menggunakan modem dsl-2640t dengan paket speedy yang 2 mb (paket executive), pc client saya ada 9 unit yang menggunakan dwa-510, setting jaringan saya dari dsl-2640t langsung disharing ke 10 pc dengan filter mac address, pertanyaan saya : apakah sudah betul settingan lan saya ? trus apabila saya mau menambah pc cient menjadi 16 unit, apakah bisa menjalankan game online (maksudnya apa akan sendat2/lag nantinya) ? trus apa saran anda untuk setting jaringan saya ? sekian terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : a

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"pertanyaan saya : apakah sudah betul settingan lan saya ?"

---> Sudah benar

"trus apabila saya mau menambah pc cient menjadi 16 unit, apakah bisa menjalankan game online (maksudnya apa akan sendat2/lag nantinya) ? trus apa saran anda untuk setting jaringan saya ?"

---> Bila anda ingin menambah 16 unit PC dgn asumsi juga menggunakan wireless maka sudah tidak ideal lagi utk game center, mengapa? Medium wireless sifatnya sharing, jadi bila ada 25 client wireless maka bandwidth per client scr teori adalah 54 Mbps / 25 = 2.16 Mbps, sementara throughputnya 25 Mbps / 25 = 1 Mbps.

Saya sarankan utk mix antara wireless dan wired, jadi anda tinggal menambah switch misalnya DES-1024D utk PC-PC wired.

Juga anda perlu perhatikan masalah "tersendat2" bila menjalankan game online terutama utk game online yang servernya ada di luar negeri. Paket ADSL 2 Mbps itu tidak murni 2 Mbps 1:1 ke international. 2 Mbps itu hanya bandwidth guarantee dari modem anda sampai DSLAM provider, jadi bandwidth internet baik lokal dan international tetap disharing. Bila anda memainkan game online dgn server diluar negeri dan pada saat itu line international yang dialokasikan utk ADSL sedang full maka mungkin saja bandwidth anda akan drop ke 64-256 Kbps yang mengakibatkan game online yang sedang dimainkan menjadi tersendat2.

Jadi disamping faktor desain internal jaringan anda, anda harus memperhatikan faktor eksternal yaitu bandwidth dari provider anda.

Mudah2an membantu

a mengatakan...

menyambung posting saya yang lalu saya ingin bertanya lagi :
warnet saya menggunakan paket speedy dengan jumlah client 9, modem saya dsl-2640t dan client saya menggunakan dwa-510, adapun saran yang diberikan jika ingin menambah client sampai 16 client maka harus ada kombinasi dengan jaringan wired, tetapi mau saya ingin ke 16 client saya menggunakan wireless (tidak repot urusan kabel), kira kira jika modem saya tsb diganti dengan yang standar N dan sisa client 7 unit yang mau saya tambah menggunakan standar N apakah bisa ? dan modem wireless apa yang support standar N ? atau bagaimana topologi yang baik untuk permasalahan saya yang ingin semua client menggunakan wireless ? terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : a

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"warnet saya menggunakan paket speedy dengan jumlah client 9, modem saya dsl-2640t dan client saya menggunakan dwa-510, adapun saran yang diberikan jika ingin menambah client sampai 16 client maka harus ada kombinasi dengan jaringan wired, tetapi mau saya ingin ke 16 client saya menggunakan wireless (tidak repot urusan kabel),"

---> Spt pada posting anda sebelumnya, anda menggunakan wireless utk game center,bila anda tidak gunakan untuk game center maka ditambah 16 client wireless (menjadi 25 wireless client) tidak menjadi masalah karena bandwidth masih mencukupi. Namun dikarenakan anda menggunakan utk game center maka solusi yang terbaik adalah menggunakan wired.

"kira kira jika modem saya tsb diganti dengan yang standar N dan sisa client 7 unit yang mau saya tambah menggunakan standar N apakah bisa ? dan modem wireless apa yang support standar N ? atau bagaimana topologi yang baik untuk permasalahan saya yang ingin semua client menggunakan wireless ?"

---> Bila penambahan hanya 7 unit, artinya total menjadi 16 client, maka untuk game online scr teoritical masih oke. Asumsi bandwidth 54Mbps/16 = 3.375Mbps dgn throughput sekitar 25Mbps/16 = 1.5Mbps.

Jadi bila hanya ditambah 7 unit anda bisa gunakan perangkat yang ada. Note : Mohon maaf spt-nya kami salah baca postingan anda sebelumnya, kami kira anda akan menambah 16 shg total menjadi 25.

Bila anda ingin standard N, bisa saja, namun mixed antara standard n dengan standard g akan menurunkan performance Wireless Router/AP standard N karena adanya airtime yang lebih panjang utk mengakomodasi speed yang lambat dari standard g.

Pilihan yang wise adalah bukan mengganti router tapi cukup menambah AP standard N yaitu DAP-1360, lalu card utk standard N menggunakan DWA-547. Namun perlu diingat, karena ada wireless standard G yang bekerja maka AP standard N cukup diset ke channel width 20MHz shg tidak saling interferensi dengan jaringan yang ada. Namun kalo ruangannya berbeda, anda bisa set channel width 20/40MHz (auto) utk DAP-1360-nya.

DAP-1360 tinggal anda plug ke salah satu dari 4 port LAN pada DSL-2640T anda.

Mudah2an membantu

a mengatakan...

terima kasih atas penjelasannya, oya ada 1 lagi yang ingin saya tanyakan, rencana saya ingin memasang dcs 2121, kira kira apakah bisa disetting menggunakan DSL-2640T (untuk memonitor menggunakan laptop, ponsel xperia x10 mini dan se k810i)

sekian terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : a

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"oya ada 1 lagi yang ingin saya tanyakan, rencana saya ingin memasang dcs 2121, kira kira apakah bisa disetting menggunakan DSL-2640T"

---> Tidak masalah, anda hanya perlu melakukan virtual server/port forwarding ke kamera agar kamera tsb bisa diakses dari internet. Anda bisa baca disini :

http://blog.dlink.co.id/2008/09/akses-ip-camera-dari-internet-dalam.html

dan

http://blog.dlink.co.id/2008/12/akses-d-link-ip-camera-melalui.html

"(untuk memonitor menggunakan laptop, ponsel xperia x10 mini dan se k810i)"

---> Untuk SE K810i pastikan ada aplikasi real player shg bisa akses ke DCS-2121 via rtsp protocol.

Untuk Xperia x10 mini yg menggunakan AndroidOS, anda harus install aplikasi IPCam Viewer Lite.

Bila anda ingin testing dulu sebelum membeli anda bisa akses ke live demo camera kami : http://www.dlink.co.id/products/livedemo/livedemo.asp

Mudah2an membantu

Hendra mengatakan...

halo dlink,
saya baru saja beli dlink DFL 210, lalu saya coba set network menggunakan wizard. setelah saya ikuti langkahnya, koq ga bisa internet ya, ip ISP saya statis. apakah default knfigurasi DFL 210 itu semuanya di blok ? lalu gimana cara nya supaya bisa internet an melalui DFL 210..trimakasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Hendra

Terima kasih atas pertanyaan anda.

Dikarenakan anda menanyakan hal teknis yg tidak berhubungan dgn thread, saya pindahkan pertanyaan anda ke http://blog.dlink.co.id/2010/04/tanya-jawab-versi-2.html

Tolong selanjutnya bila anda ada pertanyaan, posting di thread yang sesuai. Bila tidak ada yang sesuai maka silahkan posting disini : http://blog.dlink.co.id/2010/04/tanya-jawab-versi-2.html

Paul mengatakan...

Hallo, mau tanya...
di kantor,utk LAN saya pakai 10 bh D-LINK DES 1008D,
Speedy-1 pakai D-LINK DSL-2640T
Speedy-2 pakai Modem TP-Link TD-8811
utk cover wireless, selain D-LINK DSL-2640T diatas,
saya pakai Belkin Wireless G Router, Belkin Wireless N Router,Prolink WGR 1004
Semua IP address memakai 192.168.0.x
Bagaimana topologi, settingan IP, Gateway, DNS yg terbaik
Mohon pencerahannya.
Terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Paul

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"di kantor,utk LAN saya pakai 10 bh D-LINK DES 1008D,
Speedy-1 pakai D-LINK DSL-2640T
Speedy-2 pakai Modem TP-Link TD-8811 utk cover wireless, selain D-LINK DSL-2640T diatas,
saya pakai Belkin Wireless G Router, Belkin Wireless N Router,Prolink WGR 1004
Bagaimana topologi, settingan IP, Gateway, DNS yg terbaik"

---> Terlalu banyak router yang anda punya. Jaringan network yang normal hanya punya single gateway saja, jadi semua PC point ke gateway yg sama. Bila anda punya 2 line speedy maka anda bisa gunakan 2 buah modem ADSL yang dihubungkan ke load balancing router misalnya DI-LB604 atau DFL-210. Lalu dari router tsb terhubung ke switch. Dari situ anda hanya perlu membeli Access Point misalnya DAP-1360 dan bukan router spt perangkat anda yang sekarang. Contoh : http://goo.gl/QVY33

Terlalu banyak router bisa menyebabkan kesalahan yang tidak disengaja yang menyebabkan jaringan tidak bekerja normal, misalnya lupa mematikan DHCP Server, menghubungkan router ke jaringan via port WAN, dll.

Mudah2an membantu

Paul mengatakan...

Terima kasih atas penjelasannya.
Jika dalam satu jaringan menggunakan 2 gateway apakah bermasalah, jadi beberapa PC point ke gateway 1, yg lain ke gateway 2.
Adakah kelemahan W Router jika di pakai dlm mode AP.
Terima kasih sebelumnya.

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Paul

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Jika dalam satu jaringan menggunakan 2 gateway apakah bermasalah, jadi beberapa PC point ke gateway 1, yg lain ke gateway 2."

---> Tidak masalah scr operational, namun repotnya jika gateway satu mati maka kita harus memindahkan gateway dari masing2 PC scr manual. Lalu bila tidak disengaja DHCP Server di kedua router tsb hidup maka jaringan bisa abnormal dan tidak stabil.

"Adakah kelemahan W Router jika di pakai dlm mode AP."

---> Tidak ada, hanya saja tidak semua wireless router punya mode AP only. Biasanya dilakukan trick dimana wireless router dipasang ke jaringan via LAN port dan membiarkan WAN port kosong, lalu mematikan DHCP Server, Firewall, dll. Bila suatu saat ada problem misalnya tegangan listrik yg bisa trigger router tsb reset ke factory default maka otomatis DHCP Server dan fungsi router lainnya akan hidup dan otomatis jaringan menjadi abnormal.

Mudah2an membantu

Paul mengatakan...

Terima kasih atas penjelasannya,
Seandainya saya ingin menggunakan DI-LB604 sesuai saran anda,
sedangkan untuk modem saya masih punya (sdh ada) 2 buah TP-Link TD-8811 (modem + router),
Bgm Settingan gateway, DNS, dll, apakah D-LINK DSL-2640T masih bisa dimanfaatkan,
Terima kasih sebelumnya

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Paul

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Seandainya saya ingin menggunakan DI-LB604 sesuai saran anda,
sedangkan untuk modem saya masih punya (sdh ada) 2 buah TP-Link TD-8811 (modem + router),
Bgm Settingan gateway, DNS, dll,"

---> Cukup set kedua modem tsb sbg bridge dan dial PPPoE dari DI-LB604, sama spt pada gambar berikut : http://goo.gl/QVY33
Nanti semua PC akan ada dibelakang DI-LB604

"apakah D-LINK DSL-2640T masih bisa dimanfaatkan,"

---> Bisa saja, sbg access point, caranya, matikan DHCP Server dan Firewall, lalu set wireless spt biasa dan plug ke salah satu dr 4 port DI-LB604, maka laptop yang terhubung ke DSL-2640T akan mendapat IP dari DI-LB604.

Mudah2an membantu

Agus mengatakan...

Halo D-Link Yang terhormat,

Saya mau konsul sedikit, mudah-mudahan diperkenankan, setelah saya baca blog ini saya tertarik akan menggunakan switch managable D-Link, saya berencana akan ada project (hotel) dimana ada 5 lantai, dan tiap lantai kemungkinan ada <100 kamar, data yang dilewatkan video on demand, untuk switch yang cocok yang mana ya? kemudian desain network yang cocok seperti apa ya? karena data yang lewat merupakan video on demand, saya sudah ada planning tiap lantai beda network misalkan lantai 1=192.168.0.0/24, lantai 2=192.168.1.0/24 dst, dan server video di 192.168.100.1/24 misalkan, dan desain yang saya perkirakan Server --> core switch --> access switch.

Mohon pencerahannya.

Terimakasih D-Link, semoga sukses

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Agus

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Saya mau konsul sedikit, mudah-mudahan diperkenankan, setelah saya baca blog ini saya tertarik akan menggunakan switch managable D-Link, saya berencana akan ada project (hotel) dimana ada 5 lantai, dan tiap lantai kemungkinan ada <100 kamar, data yang dilewatkan video on demand, untuk switch yang cocok yang mana ya? kemudian desain network yang cocok seperti apa ya? karena data yang lewat merupakan video on demand, saya sudah ada planning tiap lantai beda network misalkan lantai 1=192.168.0.0/24, lantai 2=192.168.1.0/24 dst, dan server video di 192.168.100.1/24 misalkan, dan desain yang saya perkirakan Server --> core switch --> access switch."

---> Anda bisa gunakan DGS-3627 untuk core dan DES-3528/3552 untuk access-nya.

Desain yg paling simple menggunakan distributed core, artinya masing2 DGS-3627 ditempatin di setiap lantai dan di-lakukan physical stacking utk membuat ke-5 (asumsi setiap lantai 1 unit) menjadi seolah2 satu switch besar (http://goo.gl/PsA2R). Kemudian masing2 access switch terhubung via 2x1Gbps ke core.

Hanya saja harus ada tarikan FO dari lantai paling atas ke lantai paling bawah. Namun desain ini paling sederhana dengan tingkat availability sangat tinggi.

Mudah2an membantu

Agus mengatakan...

Terimakasih atas tanggapan dari D-Link.

Saya juga berencana menarik kabel FO antar switch core ke switch access, dari penjelasan D-Link artinya saya perlu 1 DGS-3627 untuk core dan 5 DES-3528/3552. Apakah kami bisa menggunakan switch tanpa core switch? mungkin untuk budgeting, apakah berpengaruh pada data yang akan dilewatkan jika semua menggunakan switch access?

Terimakasih banyak atas tanggapannya

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Agus

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"Saya juga berencana menarik kabel FO antar switch core ke switch access,"

---> Tergantung jarak, jika antara core n access max 100 meter, gunakan UTP saja.

"dari penjelasan D-Link artinya saya perlu 1 DGS-3627 untuk core dan 5 DES-3528/3552."

---> Kira2 spt ini layoutnya : http://goo.gl/lrLKf

Jadi per lantai ada DGS-3627/DGS-3627G yang distacking dengan DGS-3627/3627G lainnya pada lantai lainnya. Sementara dimasing2 lantai akan ada DES-3528/3552 sbg access switch tergantung jumlah port yg dibutuhkan.

"Apakah kami bisa menggunakan switch tanpa core switch?"

---> Bisa saja

"mungkin untuk budgeting, apakah berpengaruh pada data yang akan dilewatkan jika semua menggunakan switch access?"

---> Dikarenakan traffic yang akan dilewatkan itu traffic video maka core switch DGS-3627/3627G menjadi penting karena kemampuan switch ini dalam handling traffic dan kapasitas jauh lebih besar dibandign DES-3528/3552. Kecuali anda gunakan DGS-3627 semua.

Mudah2an membantu

xeon mengatakan...

Mau tanya dlink, misalkan PC yg letaknya dekat dengan switch core-aggregation layer, apakah bisa diconneckan langsung ke switch core-aggregation layer, atau harus melewati switch access layer dulu?

D-Link Indonesia mengatakan...

To: xeon

Terima kasih atas pertanyaan anda.

Selama port switch dimana anda akan menghubungkan PC anda tidak di set menjadi trunk, maka PC bisa dihubungkan ke aggregation switch.

Namun perlu diperhatikan bahwa port tersebut juga sudah harus terdaftar ke dalam salah satu anggota VLAN yang ada.

Semoga membantu

xeon mengatakan...

Thanks untuk pencerahannya. Jadi bisa disimpulkan, PC client tidak mutlak harus lewat switch access layer dan bisa dihubungkan secara langsung ke core-aggregation layer dengan syarat port VLAN disesuaikan. Bukan begitu??

Untuk DFL-210/DFL-800, apakah fungsinya sama dengan router?

Faizi Munir mengatakan...

Dear D-Link Indonesia,

saya ada kasus untuk konfigurasi berikut :
Berikut advise untuk network dengan DLINK, agar dapat mensupport IPTV



1. DGS-3610-26G sisiCore yg dekat dengan Headend IPTV lakukan :

- IGMP QUERY Enable
- IGMP SNOOPING Enable


2. DES-1228 sisi distribusi/access/terdekat dg STB lakukan :

- IGMP QUERY Disable
- IGMP SNOOPING Enable


3. DGS-1210-16 sisi stribusi/access/terdekat dg STB lakukan :

- IGMP QUERY Disable

- IGMP SNOOPING Enable

bisakah D-Link Indonesia menunjukkan configurasi lengkapnya.. saya masih awam untuk masalah ini...
terima kasih

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Faizi
Terimakasih atas pertanyaannya,
IGMP QUERY Disable
IGMP SNOOPING Enable
bisakah D-Link Indonesia menunjukkan configurasi lengkapnya?
-->Untuk mendisable IGMP Query yaitu dengan memasukan nilai 0 pada field query IGMP.
Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat referensi setting pada masing masing alat, yang anda bisa download di sini “ftp://public.dlink.co.id/Documents/Customer Support/IGMP.zip”

Untuk referensi CLI pada DGS-3610 anda bisa download disini ” ftp://public.dlink.co.id/Documents/Customer Support/DGS-3610 Series CLI Reference Guide v10.2.pdf”
Semoga membantu.

omsod mengatakan...

Halo D-Link, nanya dong...
Moden DSL526B kapasitas router user secara bersamaan berapa? Kalo saya shear internet dengan 50-60 device (pc, hp, tablet)dengan jaringan sederhana sbb;
Modem - LAN - AP - User
Kalo ternyata modem tsb tdk mampu, mohon saran alat apa yg sebaiknya saya pakai?
Demikian, terima kasih

CLIMAX STUDIO mengatakan...

saya punya jaringan lan dengan 60 user/pc. saat ini saya hanya pake mikrotik sbagai router, dlink DGS-1024D sebagai switch unmanaged. semua client saya terhuhung via wireless (ubnt). saya berminat mengganti siwtch saya dengan DGS-3627, tapi saya kurang familier dengan settingan switch managed, jika saya beli DGS-3627, apakah ada tutorial untuk alat tersebut? awal tahun depan, ada user lagi yg mau bergabung sekitar 70 user,