Jumat, Agustus 21, 2009

AP Manager II, Solusi Manajemen AP gratis dari D-Link

Umumnya perusahaan dari skala SOHO, SMB dan SME mempunyai Access Point lebih dari satu dan untuk me-maintain-nya dilakukan dengan cara mengakses satu demi satu Access Point tersebut. Memang ada sebagian yang menggunakan NMS software baik yang gratis maupun yang bayar, namun dikarenakan berbeda vendor agak sulit untuk memanage Access Point tsb scr full control (kecuali vendor NMS-nya menyediakan modul yang lengkap).

Kini D-Link memberikan solusi yaitu kami menyediakan software manajemen AP scr cuma-cuma (baca : Gratis) untuk semua D-Link Business AP Series yaitu :

- DWL-3200AP
- DWL-8200AP
- DWL-2700AP
- DWL-7700AP
- DWL-3260AP
- DAP-2553
- DAP-2590
- DAP-3220

Software ini dinamakan AP Manager II. AP Manager II kompatibel dengan Windows® 2000/XP/2003/Vista 32-bit/64-bit. Untuk pengguna MacOS dan Linux, mohon maaf, kami belum berencana untuk membuat versi Mac dan Linux.

Berikut akan dijelaskan cara instalasi dari AP Manager II :

1. Pada tutorial kali ini digunakan Windows Vista Business SP 1



2. Install PostgreSQL 8.3 (dalam contoh ini digunakan versi 8.3.5)



Klik Next sampai ke halaman untuk memasukkan password, disini installer akan membuat Windows Service Account dengan username postgres, kita define password-nya disini, dalam contoh kali ini password yang digunakan : dlink



Teruskan sampai selesai



Setelah selesai unchek "Launch Stack Builder at exit?", kemudian klik "Finish"



3. Lalu install Psqlodbc sampai selesai



4. Install AP Manager II (disini digunakan versi terbaru yaitu v2.10r0143)



Biarkan semuanya default (kecuali anda ingin mengubahnya misalnya destination foldernya mau diubah, dll)



Masukkan password dari username postgres yang sudah dibuat pada instalasi PostgreSQL tadi



Bila username dan password-nya benar maka akan muncul pop-up windows spt dibawah :



Lanjutkan sampai selesai.

5. Install AP Manager II Module dari masing2 Access Point, disini digunakan DAP-2590 sbg contoh




Konfigurasi dasar AP Manager II :

1. Sebelum masuk ke AP Manager II, pastikan AP sudah dienable SNMP-nya, berikut contoh menggunakan DAP-2590 dengan fw 1.11 dan IP DAP-2590 adalah 192.168.10.3 (IP PC dimana AP Manager II di-install adalah 192.168.10.97)



Masuk ke menu Maintenance --> Administration Settings, check SNMP setting. Check Enable, biarkan Community String ke nilai defaultnya, lalu Enable Trap Status, masukkan IP AP Manager II sbg Trap Server IP.



Setelah Klik Configuration dan pilih Save and Active



2. Buka AP Manager II dan login, username dan password default adalah admin dan admin



3. Klik kanan Group di menu sebelah kiri, lalu pilih Discover



Maka akan terdeteksi DAP-2590



4. Buat Group baru di Category 1 (Klik Kanan dan pilih Create Group), dalam contoh dinamakan Ruang-Lab



5. Klik DAP-2590 dan drag ke Sub-Category yg tadi kita buat yaitu Ruang-Lab, maka icon-nya akan berubah dari Kotak Biru (Unmanaged) menjadi Bulat Hijau (Managed)



6. Konfigurasi dasar selesai, selanjutnya kita bisa melihat report berdasarkan grafis spt gambar berikut :



Kita juga bisa buat topology spt gambar berikut :



Dan yang terpenting, kita bisa men-setting DAP-2590 persis seperti kita akses webUI-nya, tinggal double click AP yang ingin disetting maka akan muncul module setting pada windows baru :



Paket PostgreSQL beserta Psqlodbc dapat didownload disini.

AP Manager II v2.10r0143 dapat didownload disini. (Note : didalam file zip terdapat 3 file yaitu Installer-nya, MySQL Connector dan scanAP, yang digunakan hanya Installer-nya saja, sementara MySQL Connector dan scanAP digunakan untuk keperluan lainnya)

User Manual AP Manager II v2.1 dapat didownload disini.

AP Manager II Module bisa didownload disini.

Note : Tidak ada batas maksimal jumlah AP yang dapat dimanage oleh AP Manager II, namun semua harus memperhitungkan kemampuan si PC sendiri, estimasinya Intel Core 2 Duo 3 GHz dgn Memory 1 GB bisa me-manage up to 50 APs.

Happy Managing D-Link Business AP !!

Selasa, Agustus 04, 2009

Desain Network yang Simpel

Desain suatu jaringan memang cukup rumit terutama untuk jaringan dengan skala besar, misalnya diatas 1000 PC karena kita harus memperhitungkan mengenai performa, segmentasi, skema IP dan availability baik dalam hal koneksi maupun perangkat.

Sering kali kita melihat network design guideline dimana layer (lapisan) dari suatu jaringan dibagi menjadi 3 yaitu Core Layer, Aggregation Layer (atau bisa juga disebut Distribution Layer) dan Access Layer (atau Edge Layer).

Lihat contoh berikut :


Contoh tersebut menggunakan chassis-based switches (misalnya DES-7200 Series) untuk core dan aggregation, tentunya dual chassis utk HA, dual management engine dan dual psu. Sementara di sisi access digunakan physical stacking switches (misalnya DGS-3400 Series atau DGS-3600 Series). Bahkan ada yang menggunakan chassis-based switch untuk access layer spt pada gambar berikut :



Ada yang salah dengan 2 contoh desain tsb? Sama sekali tidak, design tsb merupakan standar de-facto untuk membangun jaringan skala besar. Namun apakah desain yang sama juga cocok untuk jaringan skala kecil-menengah?

Bila budget IT-nya cukup sih, sah-sah saja menerapkan desain yang sama namun yang terjadi adalah overkill dan hanya buang2 budget saja sementara hasil yang didapat tidak sesuai dengan budget yang dikeluarkan (bahasa kerennya : price-to-performance ratio-nya tidak bagus). Lalu bagaimana desain yang simpel untuk jaringan skala kecil-menengah? Jawabannya, untuk jaringan seperti ini cukup digunakan 2 layer saja, dimana core dan aggregation dijadikan satu. Bahkan kalau memang sangat kecil jaringannya misalnya kurang dari 20 komputer, tidak perlu layer-layer-an :-)

Lihat contoh berikut :


Pada desain tsb digunakan L2 Gigabit Switches yaitu DGS-3100-24 sbg core-aggregation layer sementara disisi akses menggunakan DES-3028 atau DES-3028P (bila membutuhkan PoE untuk perangkat IP-Phone, IP-Camera atau Access Point). Antara core-aggregation layer ke access layer digunakan 2 link koneksi gigabit dengan konfigurasi link aggregation sehingga pada kondisi normal (dalam arti kedua link up) maka traffic akan di-load balance diantara kedua link itu, sedangkan bila salah satu link down maka koneksi masih bisa berjalan. Sebagai proteksi jaringan digunakan D-Link UTM DFL-260 atau D-Link Firewall DFL-210. Dengan konfigurasi spt ini, cocok untuk jaringan dengan kapasitas antara 30-60 users.

Bila ingin meningkatkan availability terutama disisi core-aggregation layer maka bisa ditambahkan satu unit DGS-3100-24 spt gambar berikut :



Pada layout berikut terdapat 2 buah DGS-3100-24, dimana kedua DGS-3100-24 ini diset sbg physical stacking (menggunakan HDMI stacking port). 2 link yang ada pada masing2 access switch dihubungkan ke physical stacking DGS-3100-24 ini yaitu 1 link ke DGS-3100-24 pertama dan 1 link ke DGS-3100-24 kedua. Jadi bila DGS-3100-24 pertama down maka jaringan tidak akan terpengaruh karena DGS-3100-24 kedua akan mengambil alih.

Bagaimana jika jumlah user-nya lebih dari 60? misalnya 150 users? Layout berikut cocok untuk jumlah user diatas 100.



Secara desain, jaringan ini sama dengan sebelumnya hanya pada layout kali ini digunakan switches dengan performance dan features yang lebih baik. Untuk core-aggregation layer digunakan DGS-3426 (L2 Gigabit) atau DGS-3627 (L3 Gigabit), sementara untuk access layer-nya digunakan DES-3526 atau bila menginginkan access switch dengan kapasitas yang lebih besar bisa menggunakan DES-3528 atau DES-3528P (dengan PoE). Sementara untuk security digunakan D-Link Firewall DFL-800 atau D-Link UTM DFL-860.

Sama hal-nya dengan penjelasan diatas, kita bisa menambahkan satu unit DGS-3426 atau DGS-3627 untuk meningkatkan availability. 2 unit DGS-3426 atau 2 unit DGS-3627 diset sbg physical stacking bisa menggunakan 10 Gb CX Module atau 10 Gb Fiber Module. Lalu masing2 access switch akan terhubung ke masing2 switch dalam physical stacking tsb. Layoutnya bisa dilihat pada gambar berikut :



Pada layout utk jumlah user diatas 100 diberikan opsi untuk menggunakan Layer 3 Switch karena umumnya bila jaringan sudah diatas 100 users, akan ada segmentasi dan memerlukan fitur2 yang ada pada Layer 3 switch misalnya DHCP relay, Inter-VLAN Routing, dan lain-lain.

Jadi untuk desain jaringan skala kecil-menengah tidak perlu rumit spt halnya desain 3 layer, bukan karena desain ini jelek, namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan shg mencapai hasil yang maksimal. Bila butuh solusi, konsultasi atau pertanyaan lainnya mengenai desain jaringan bisa email ke sini.