Senin, Januari 19, 2009

D-Link Unified Access System

Pernahkah anda men-deploy jaringan wi-fi dimana jumlah Access Point-nya lebih dari 25 unit dalam satu gedung atau satu area yang sama? Bila pernah, apa yang anda rasakan pada saat implementasi-nya? Pusing dalam menentukan channel? Bingung menerapkan security yang konsisten di semua Access Point? Bingung memaintain dan manajemen-nya? Bingung utk upgrade firmware-nya? Bingung dalam menentukan berapa EIRP yg sesuai per Access Point-nya utk mencegah co-channel interference?

Semua masalah2 itu logis kita temui bila kita men-deploy jaringan wi-fi skala besar yang melibatkan puluhan, ratusan bahkan ribuan Access Point. Apakah ada solusi-nya untuk menangani masalah2 itu?

Jawabannya tentu ada (kalau tidak ada saya tidak mungkin nulis blog ini hehehe :-D). Sekarang nyaris semua deployment jaringan wi-fi skala besar di semua negara menggunakan yang namanya "Centralized" model, baik itu yang menggunakan Wireless Controller ataupun yang menggunakan Unified Wireless Switch.

Baik Wireless Controller ataupun Unified Wireless Switch sama2 merupakan pusat dari semua Access Point, jadi Access Point semua di-kontrol oleh Wireless Controller atau Unified Wireless Switch. Dengan adanya manajemen yang tersentralisasi tentunya lebih mudah buat kita untuk mengontrol Access Point yang jumlahnya ratusan. Dengan metode ini, kita bisa menerapkan security policy yang konsisten utk semua Access Point karena hanya di-define sekali pada perangkat pengontrol-nya. Masalah channel dan power assignment-nya juga tidak menjadi masalah karena si "pusat" akan menentukan sendiri channel yang sesuai dan berapa besar EIRP-nya untuk menghindari/mengurangi co-channel interference. Begitu pula untuk upgrade firmware misalnya, kita cukup define firmware di si "pusat" itu maka otomatis semua Access Point akan ter-upgrade firmwarenya.

Nah sekarang apa bedanya Wireless Controller dengan Unified Wireless Switch? Wireless Controller itu hanya sebagai pengontrol dari Access Point dan jumlah port-nya pun terbatas jadi tidak bisa digunakan sbg switch. Selain itu backplane dan forwading rate-nya terbatas karena memang perangkat ini tidak di-design utk mempunyai backplane dan forwarding rate yang tinggi.

Kebalikan dari itu semua, Unified Wireless Switch punya semua fitur dari Wireless Controller namun ditambah kemampuan berperan sebagai Switch biasa, otomatis backplane dan forwarding rate-nya sama tinggi-nya dengan switch biasa shg bisa handling traffic dengan lebih baik dan port density-nya pun tinggi shg bisa digunakan lgs sbg access switch ataupun aggregation switch. Kelebihan lainnya dari Unified Wireless Switch adalah port-nya sudah PoE jadi Access Point langsung bisa plug disitu.

D-Link mempunyai line product Unified Access System yaitu terdiri dari :

- DWS-3000 Series, merupakan Unified Wireless Switch
- DWL-3500AP/8500AP, merupakan Unified AP

DWS-3000 Series terdiri dari 3 varian yaitu :

- DWS-3024L : 24 port 10/100/1000 Mbps PoE + 4 Combo SFP, Manage up to 24 DWL-3500AP/8500AP
- DWS-3024 : 24 port 10/100/1000 Mbps PoE + 4 Combo SFP, Manage up to 48 DWL-3500AP/8500AP
- DWS-3026 : 24 port 10/100/1000 Mbps PoE + 4 Combo SFP + 2 open slot for 10 Gbps modules, Manage up to 48 DWL-3500AP/8500AP

Informasi lebih lengkap bisa klik disini.

Untuk melihat fitur-fitur beserta success story deployment dari D-Link Unified Access System bisa lihat presentasi online dengan meng-klik gambar dibawah ini :



Bila ada pertanyaan teknis atau butuh network consultation dalam implementasi jaringan menggunakan D-Link Unified Access System? silahkan email ke sini.

7 komentar:

Don-Boer mengatakan...

Menurt Saya kedua device tersebut memiliki kelebihan & Kekurangan masing-masing. Seperti penulis katakan, bahwa Unified Wireless Switch dapat berfungsi sebagai switch & support PoE namun dia harus langsung direct connect via UTP to Access Point (FAT) agar bisa beroperasi dengan baik namun jikalau Jarak yang di hubungkan sangat jauh misalkan lebih dari 100 meter dari unified wireless Switch ke Access Point maka tidak akan berfungsi di karenakan batas maximal adalah 100 meter untuk cable UTP.
Selain itu, maximal Access point yang dapat di support oleh Unified ini hanya 24 Access Point.
Lainpula halnya dengan Wireless Controller, di mana device ini tidak dapat berfungsi sebagai switch namun dapat mendeteksi Managed Access Point / MAP (FIT) yang terhubung dalam 1 buah LAN walau jarak berjauhan. Misalkan Switch controller di letakkan pada ruangan server lantai dasar sebuah building, maka Managed Access Point yang berada di lantai 20 dapat terdeteksi / konfigurasi , di mana Managed Access Point ini terhubung dengan Switch yang support PoE pada LAN tersebut.
Pada Wireless Controller bisa mendukung lebih dari 24 Managed Access Point (MAP) bahkan bisa 120 MAP.
Selain itu pada Access Point / AP (FAT) akan mengalami delay saat user (mobiles) dari AP 1 ke AP 2. Beda halnya dengan menggunakan Managed Access Point (MAP), pada device MAP ini saat perpindahan user dari MAP 1 ke MAP 2 tidak mengalami disconnect / delay sama sekali. Hal ini dapat di lihat jelas saat implementasi Video Confrence dengan mengunakan Access Point (AP) dengan Unified Wireless Switch & Managed Access Point (MAP) dengan Wireless Controller.
Saya rasa hanya itu yang dapat di sampaikan.

Thanks & Best Regards,
Donny Boerman
Sales & Pre-Sales Engineer 3COM
donny.herogame@yahoo.com.cn
http://www.esnips.com/web/donboer-ccna

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Don-Boer berkata...

Terima kasih atas komentar anda.

"bahwa Unified Wireless Switch dapat berfungsi sebagai switch & support PoE namun dia harus langsung direct connect via UTP to Access Point (FAT) agar bisa beroperasi dengan baik namun jikalau Jarak yang di hubungkan sangat jauh misalkan lebih dari 100 meter dari unified wireless Switch ke Access Point maka tidak akan berfungsi di karenakan batas maximal adalah 100 meter untuk cable UTP. "

---> AP tidak harus konek scr langsung ke DWS-3024L/24/26. Bahkan AP bisa dimanage oleh DWS over VPN :-) Jadi jarak tidak menjadi masalah selama AP itu reachable baik via L3 or L2 discovery

"Selain itu, maximal Access point yang dapat di support oleh Unified ini hanya 24 Access Point. "

---> DWS-3024L support up to 24 AP, sementara DWS-3024/26 support up to 48 AP. Lalu Masing2 DWS bisa dipeer up to 4 switch, Bila anda peer 4 switch maka total AP menjadi 192 AP, jadi cukup scalable :-)

"Lainpula halnya dengan Wireless Controller, di mana device ini tidak dapat berfungsi sebagai switch namun dapat mendeteksi Managed Access Point / MAP (FIT) yang terhubung dalam 1 buah LAN walau jarak berjauhan. Misalkan Switch controller di letakkan pada ruangan server lantai dasar sebuah building, maka Managed Access Point yang berada di lantai 20 dapat terdeteksi / konfigurasi , di mana Managed Access Point ini terhubung dengan Switch yang support PoE pada LAN tersebut.
Pada Wireless Controller bisa mendukung lebih dari 24 Managed Access Point (MAP) bahkan bisa 120 MAP."

---> DWS-3024L/24/26, bisa bertindak sbg wireless controller spt yang anda sebutkan, karena AP tidak harus plug scr langsung. Kelebihan dibanding traditional wireless controller adalah backplane capacity, wireless controller umumnya mempunyai backplane yang terbatas shg utk L3 roaming akan terjadi bottleneck di sisi wireless controllernya.

"Selain itu pada Access Point / AP (FAT) akan mengalami delay saat user (mobiles) dari AP 1 ke AP 2. Beda halnya dengan menggunakan Managed Access Point (MAP), pada device MAP ini saat perpindahan user dari MAP 1 ke MAP 2 tidak mengalami disconnect / delay sama sekali. Hal ini dapat di lihat jelas saat implementasi Video Confrence dengan mengunakan Access Point (AP) dengan Unified Wireless Switch & Managed Access Point (MAP) dengan Wireless Controller."

---> DWL-3500AP/8500AP adalah dual mode AP, dia bisa bertindak sbg thin atau thick (FAT) AP. Bila dia dimanage oleh DWS maka dia akan menjadi thin AP, sementara bila anda tidak menggunakan DWS maka DWL-3500AP/8500AP tetap berfungsi sbg Fat AP biasa. Jadi ini protect investment dari end user. DWS-3024/24L/26 + DWL-3500AP + DWS-8500AP support fast roaming baik L2 roaming maupun L3 roaming, jadi tidak ada masalah dengan delay :-)

Maaf baru response komentar anda, karena tidak ada notifikasi sebelumnya.

Mudah2an anda jelas dengan product kami.

Teguh Hadi Wibowo mengatakan...

Informasi yang sangat bagus, terima kasih. Namun karena alasan2 tertentu saya justru lebih ingin men-deploy AP dengan menggunakan centralized wireless controller dibandingkan unified access ssytem.
Pertanyaan saya :
1. Adakah keunggulan wireless controller dibanding unified access system?
2. Type AP dan switch apakah yang dapat digunakan dalam sistem wireless controller ini?
Atas jawabannya saya ucapkan terim a kasih.

D-Link Indonesia mengatakan...

To : Teguh Hadi Wibowo

Terima kasih atas pertanyaan anda.

"1. Adakah keunggulan wireless controller dibanding unified access system?"

---> Bisa dibilang tidak ada. Mengapa? Karena Unified Access System adalah enhancement dari wireless controller system.

Umumnya perangkat traditional wireless controller mempunyai backplane dan forwarding rate yang terbatas jadi akan terjadi bottleneck bila harus menghandle L3 roaming traffic. Juga ada beberapa vendor wireless controller dimana semua traffic harus back to controller walaupun ini L2 traffic, jadi dgn backplane dan forwarding rate yang terbatas ini akan menjadi masalah dalam performance jaringan scr keseluruhan.

"2. Type AP dan switch apakah yang dapat digunakan dalam sistem wireless controller ini?"

---> DWS-3000 Series dan DWL-3500AP/8500AP adalah unified access system yang merupakan pengembangan dari wireless controller. Kami lebih suka membedakan posisi penempatan sbg overlay deployment atau unified deployment (bisa dilihat dalam slide online yg ada diblog diatas).

Jika deployment menggunakan model overlay, artinya DWS-3000 series akan bertindak sbg wireless controller namun memiliki kelebihan2 dibanding traditional wireless controller, spt backplane n forwarding rate capacity, traffic back to controller hanya utk L3 roaming, sementara L2 roaming akan langsung diforward dari AP to AP, dan sebagainya.

Mudah2an membantu

Unknown mengatakan...

saya mau tanya? tp link skrg tidak ada transmit power nya ya. untuk menatur HIGH,MEDIUM,LOW. kalo tidak ada kasih solusi agar jangkauan wifi saya tidak terlalu luas atau terlalu jauh

dendi wahyudin mengatakan...

Mau Tanya masalah swicht yg ada ea dengan yg g ada eanya perbedaannya apa?

dendi wahyudin mengatakan...

Mau Tanya masalah swicht yg ada ea dengan yg g ada eanya perbedaannya apa?